Belum Ada "Hilal" Stimulus, Wall Street Dibuka Terpuruk

Belum Ada “Hilal” Stimulus, Wall Street Dibuka Terpuruk

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar uang saham Amerika Serikat (AS) dibuka merah pada perdagangan Senin (7/12/2020), menyusul kaburnya rencana stimulus hangat di Senat sementara kasus corona terus meningkat.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 73 poin (-0, 3%) pada pukul 08: 30 waktu setempat (21: 30 WIB) dan selang 20 menit memburuk jadi 125, 3 poin (-0, 41%) ke 29. 737, 69. Indeks S& P 500 surut 6, 78 poin (-0, 2%) ke 3. 692, 34 dan Nasdaq minus 37, 35 pokok (-0, 3%) ke 12. 501, 58.

Saham Chevron dan Intel menjelma pemberat utama Dow Jones, secara anjlok masing-masing sebesar 2% serta 1, 7%. Namun secara sektoral, indeks saham sektor energi memimpin pelemahan indeks S& P 500 dengan anjlok lebih dari 2%.


“Dalam jangka pendek, risiko pembalikan pura saham yang tipis terus tumbuh karena memburuknya situasi virus di AS yang bisa memicu pembalikan posisi, ” tulis Goldman Sachs dalam laporan risetnya, yang dikutip CNBC International .

Biar persetujuan vaksin kian dekat, tinggi perusahaan tersebut, kenaikan pembatasan baik atau penghentian aktivitas publik di AS bisa memperlambat pemulihan ekonomi dalam jangka pendek.

Dr. Deborah Birx pada Minggu mengingatkan kalau kenaikan kasus corona akan menjadi “yang terburuk pernah dihadapi di negeri ini, bukan hanya dibanding sisi kesehatan publik. ” Era ini ada lebih dari 14 juta kasus Covid-19 di AS, dengan 282. 000 kematian.

Dalam Jumat, indeks Dow Jones melonjak lebih dari 200 poin karena investor menunggu vaksin corona dan kemungkinan tambahan bantuan fiskal. Indeks S& P 500 dan Nasdaq menguat masing-masing sebesar 0, 9% dan 0, 7%.

Reli terjadi makin setelah rilis data tenaga kegiatan AS yang mengecewakan. Data Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa ada 245. 000 lapangan kerja gres tercipta pada November. Ekonom di dalam polling Dow Jones semula memperkirakan angkanya bakal sebesar 440. 000.

Petunjuk yang mengecewakan itu mendorong pemodal menumpukan harapan pada stimulus pra akhir tahun ini. Dalam cuitannya pada Jumat, pimpinan Senat Minoritas Chuck Schumer menilai data itu mengindikasikan bahwa AS perlu “bantuan darurat yang kuat dan mendadak. ”

Presiden terpilih Joe Biden juga menilai bahwa data tersebut membayangi “musim dingin yang kelam. ” Komentar tersebut muncul sesudah proposal stimulus senilai US$ 908 miliar ditolak oleh Senat pekan lalu.

Meski pemimpin Senat Kebanyakan Mitch McConnell sudah menolak proposal itu, juru bicara Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan bahwa pihaknya dan McConnell masih berdiskusi perkara “komitmen bersama untuk menyelesaikan omnibus [UU stimulus] dan bantuan Covid segera. ”

Jumlah pasien dengan dirawat juga menyentuh rekor sehingga memicu pemerintah di beberapa negara bagian memberlakukan kembali pembatasan sosial.

AWAK RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)