BI: Bila Biden Menang, Aliran Modal Asing Bakal Banjiri RI

BI: Bila Biden Menang, Aliran Modal Asing Bakal Banjiri RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Laga sengit memperebutkan kursi nomor utama di Amerika Serikat (AS) sedang terus berlangsung. Sampai dengan berita ini ditayangkan, Joe Biden sedang unggul dengan 238 suara elektoral, sedangkan petahana, Donald Trump asing selisih 25 suara, yakni 213 suara elektoral.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Nanang Hendarsah menilai hati Pemilu Presiden AS  akan besar terhadap aliran modal, terutama ke negara-negara berkembang.

Menurut Nanang, saat ini investor kemaluan kepastian dalam hal kebijakan dengan lebih bersahabat dengan negara-negara lain. Maka, menurutnya, keterpilihan Joe Biden akan memberi kepastian bagi investor.


Foto: Direktur Eksekutif Departemen Tata Moneter BI Nanang Hendarsah (CNBC Indonesia)
Direktur Eksekutif Bagian Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah (CNBC Indonesia)

“Calon presiden AS Biden akan lebih mengeluarkan kebijakan friendly dengan negara lain, tidak provokatif, predictable , memberikan kepastian bagi investor. Ini akan mendorong flight quality lantaran US treasury bond [obligasi AS] ke negara-negara emerging [negara berkembang]. Investasi di emerging betul terkait masalah kepastian global, ” kata Nanang, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia di program Money Talks, Rabu (4/11/2020).

Hal ini, menurut Nanang sepaham dengan riset dari JP Morgan yang memperkirakan, aliran modal ganjil akan deras ke negara tumbuh seperti Indonesia setelah adanya keyakinan dari presiden terpilih di  AS.

Selain itu, daripada sisi fundamental ekonomi, Indonesia sedang terbilang cukup baik dengan balasan hasil surat berharga negara pada kisaran 6, 58%, masih dengan tertinggi di Asia, sehingga bakal menarik aliran modal asing buat masuk.

Namun sebaliknya, bila pemilu dalam AS tidak berjalan mulus, oleh karena itu akan menyebabkan guncangan terhadap biji tukar rupiah karena investor masih membenamkan uangnya di aset safe haven.

Sebagai daftar, sampai saat ini kandidat lantaran Partai Demokrat Joe Biden sedang unggul dengan perolehan suara elektoral sementara 238, sedangkan Trump dibanding Partai Republik masih mengantongi 213 suara.

Kontestasi politik keduanya sangatlah sengit serta dinamis. Sistem pemilu yang memakai lembaga pemilih atau electoral college pada akhirnya membuat demokrasi dalam AS tidak terjadi secara tepat.

Untuk memimpin pemilu salah satu kandidat harus mendapat 270 suara dari total 538 elektor yang mewakili 150 juta masyarakat AS yang berpartisipasi dalam pemilu kali ini.

Ada 50 negara bagian yang terbagi menjadi tiga kategori, ada yang menjadi wilayah Demokrat, ada yang menjadi sarang Republik ada juga yang sifatnya swing atau ada kemungkinan bisa dimenangkan oleh salah satu pihak.

Swing state menjadi perhatian baik kandidat, pengamat politik hingga publik karena suara para elektor dari daerah ini lah yang nanti mampu mempengaruhi hasil akhir pemilu.

Saat ini dari 14 negara bagian yang masuk bagian swing state , Trump unggul di sembilan provinsi. Namun, belum semua suara terhitung. Proses perhitungan membutuhkan waktu dengan tidak singkat dan bisa berhari-hari.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)