Cerita Bos BUMN PT PANN Usai Dapat PMN Rp3, 76 T, Buat Apa?

Cerita Bos BUMN PT PANN Usai Dapat PMN Rp3, 76 T, Buat Apa?

Jakarta, CNBC Indonesia –  BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan kapal, yaitu PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (Persero) tarnname PANN, sempat membuat heboh pada tahun lalu.

Terkait tak lepas dari keheranan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yg mengaku baru mendengar perusahaan pelat merah bernama PANN. Keheranan itu dilontarkan Sri Mulyani dalam rapat di DPR RI 10 Desember 2019.

Beberapa bulan berselang giliran Menteri BUMN  Erick Thohir yang menyinggung PANN. Berdasarkan Erick, masih banyak BUMN yg bergerak tidak fokus.

Ia bilang BUMN ini sebatas punya tujuh karyawan. Di sisi lain bisnisnya tak fokus, karena selain di bisnis pembiayaan tapi juga masuk ke bisnis perhotelan.

“Mohon maaf tadi di Komisi VI memanggil salah satu BUMN, yaitu PT PANN total pegawainya hanya 7 direksi dan komisaris. Bisnisnya untuk funding kapal, ” kata Erick di DPR RI, 20 Februari 2020.

“Mereka hidup karena punya 2 hotel yang dikelola. Hal-hal seperti ini bukan salah direksi sekarang tapi ini perlu kita jaga masing-masing BUMN kembali pada core bisnisnya. Jangan sampai BUMN kembali pada tempat yg tidak sehat. Jangan sampai membunuh UMKM dan usaha lokal, inch katanya.

Pada malam ini, Direktur Utama PANN Hery S. Soewandi menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI. Kehadiran itu lantaran PANN memperoleh penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 3, 76 triliun. Permintaan PMN ini dilakukan tahun lalu untuk menutup nilai kewajiban perusahaan yang telah membengkak sejak seperempat abad terakhir.

Hery mengatakan, utang tersebut membengkak karena perusahaan menanggung utang dari service level agreement (SLA) yg dilakukan pemerintah Indonesia dengan Jerman dan Spanyol untuk pengadaan ten pesawat dan 31 kapal.

“Kedua transaksi ini memang bukan core business PANN, tidak ada ahli dan kompetensi di pesawat dan kapal armada niaga, bukan kapal ikan. 10 pesawat itu nilainya dengan kurs saat itu US$ 89, 6 juta dan 31 kapal ikan US$ 182 juta, ” kata Hery.

Pesawat tersebut kemudian diserahkan kepada perusahaan penerbangan pelat merah Mandala (2 pesawat), Bouraq (2 pesawat), Merpati (3 pesawat) dan Sempati (3 pesawat). Namun perusahaan ini malah collapse tanpa membayarkan utangnya kepada PANN.

Sedangkan thirty-one kapal dari Spanyol hanya mampu dibangun 14 unit, sedang 17 lainnya terbengkalai. Namun, kapal yang sudah dibangun ini tak bisa dijual karena harga jualnya terlalu tinggi dari harga pasar.

PANN telah mengeluarkan cicilan sebanyak US$ 34 juta unutk pesawat dan Rp 150 miliar pinjaman bank untuk membiayai kapal tersebut.

“Dan dalam dua proyek itu pemerintah janjikan PANN tambah modal jadi Rp 500 miliar, tapi tidak pernah terealisasi. Sejak 1994 PANN sudah mulai tergerus, likuiditas habis serta negatif ekuitas di 2004 karena hasil yang dikelola PANN tidak sampai lagi untuk menutupi kerugian karena dua proyek ini, ” terang dia.

Selanjutnya pada 2006 manajemen perusahaan mengajukan penghentian pembayaran bunga kepada pemerintah. Namun, utang sebelumnya masih tetap dibukukan perusahaan dan terus bertambah setiap tahunnya. Pada 2009 perusahaan mengajukan restrukturisasi atas utang tersebut namun baru disetujui oleh pemerintah empat tahun kemudian.

“Restrukturisasi yang dilakukan PANN ajukan ke Kemenkeu konversi pinjaman SLA ini, di mana angkanya sudah membengkak dari US$ 271 juta bengkak jadi US$ 461 juta karena bunga dan denda bunga dikenakan ke PANN. Padahal akibatnya gak balik dari program tersebut, makanya kita minta konversi agar PANN bisa berjalan kembali sesuai bisnisnya, ” kata Hery.

Untuk itu perusahaan mengajukan PMN non-cash senilai Rp several, 76 triliun kepada pemerintah buat mengkonversi SLA tersebut.

Mengacu situs resminya, PANN didirikan pada 6 Mei 1974 serta bergerak di bidang pengembangan armada niaga nasional. Berdirinya PANN juga menjadi amanat dari Rencana Pembangunan Lima Tahun atau Repelita II. Dokumen Repelita II tersebut menyatakan agar pemerintah membentuk suatu badan yang bertugas di bidang pembiayaan dan pengembangan armada niaga lokal. 



PANN kemudian memantapkan strateginya dengan membentuk cross-sektoral holding dan spin-off sektor cara strategis yakni usaha pembiayaan kapal, shipping, shipyard, manajemen perkapalan, pialang asuransi kapal sehingga PANN (berdiri menjadi perusahaan holding. 




Pada 8 Agustus 2012, PANN mendirikan anak usaha PT PANN Pembiayaan Maritim yang kemudian dilakukan pemisahan bisnis atau rewrite off pada 19 Februari 2013. Dengan demikian, kegiatan bisnis inti perseroan dialihkan kepada anak usaha (PANN Multifinance), sedangkan PANN ditetapkan sebagai induk perusahaan (holding company). 


Saksikan video terkait di bawah ini:

(miq/miq)