disalip-hong-kong-ri-singapura-panik-pasar-modalnya-dikebut-1

Disalip Hong Kong-RI, Singapura Bingung! Pasar Modalnya Dikebut

Jakarta, CNBC  Indonesia kepala Pemerintah Singapura mengumumkan akan menyiapkan beberapa langkah buat menggenjot pertumbuhan modal mereka dengan mengakomodasi penawaran ijmal saham perdana (initial public offering/IPO) perusahaan start-up (rintisan) teknologi yang tengah tumbuh.

Langkah ini disiapkan demi memikat perusahaan-perusahaan teknologi agar mau melayani IPO   di Bursa Singapura (Singapore Exchange). Apalagi saat itu pasar modal Singapura berangkat tertinggal dari sejumlah pasar modal di Asia, termasuk dari Hong Kong & Indonesia.

Dikutip dari wawancara  eksklusif  CNBC International, Lee Boon Chye,   Kepala Eksekutif Singapore Exchange mengatakan Singapura ialah negara dengan tujuan pencatatan saham favorit  bagi investasi perusahaan real eastate.


Walaupun telah memiliki perusahaan teknologi sesuai Nanofilm yang terdaftar pada pasar saham di kian, tetapi Negara Singa itu ingin menarik perusahaan-perusahaan teknologi lainnya untuk segera mengagendakan saham perusahaan mereka di Bursa Singapura.

Nanofilm Technologies International adalah perusahaan yang menyediakan bahan pelapis mengikuti pelindung untuk smartphone serta televisi.

Nanofilm memulai debut perdagangannya di Bursa Singapura pada tarikh lalu, dan menjadikan Nanofilm sebagai IPO non-REIT  (real eastate  investment trust/dana investasi real estate) terbesar perdana dalam beberapa tahun.

Strategi Asing

Lebih lanjut, Pemerintah Singapura beriringan dengan Temasek, perusahaan BUMN investasi Singapura, akan menolong perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan modal melalui IPO baik primer maupun sekunder.

Pada tahap pertama, pemberian tersebut akan sediakan sebesar SG$  1, 5 miliar atau setara dengan US$ 1, 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun, kurs Rp 14. 300/US$).

Langkah lainnya serupa diumumkan pemerintah Singapura, di antaranya Badan Investasi Singapura (Economic Development Board/EBD) di dalam tahap selanjutnya akan menyerahkan dana baru untuk investasi di perusahaan tersebut datang saham tercatat di Bursa Singapura.

Sedekah tersebut akan diberikan kepada perusahaan-perusahaan dengan nilai hingga SG$  500 juta, sama Rp 5, 3 triliun (kurs Rp 10. 566/SG$).

Selanjutnya, desain berikutnya mengenai masalah regulator keuangan.   Nantinya Bank Sental Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) akan meningkatkan hibah buat membantu perusahaan membiayai ongkos pencatatan atau listing fee.

Terakhir Singapura Exchange (SGX) akan positif perusahaan untuk mengumpulkan persediaan sebelum  tercatat di papan bursa.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong pada pidatonya mengaku bahwa insentif yang diluncurkan bukanlah pelor ajaib, tetapi ia tetap hal ini akan berharta menjadi angin baru serta menjadikan Bursa Singapura bukan hanya pilihan yang tampan tetapi juga menarik untuk perusahaan inovatif yang medium tumbuh dan ingin go public.

Gan Kim Yong juga mengatakan zaman ini ada empat start-up lokal Singapura telah mencapai status sebagai “unicorn” serta bernilai US$ 1 miliar. Dari keempat tersebut yang terbaru adalah start-up Carousell.

Daftar SPAC
Singapura Exchange dalam beberapa tarikh terakhir juga telah mengutarakan beberapa langkah untuk memajukan IPO.

Apalagi awal bulan ini SGX bahkan mengumumkan aturan terakhir untuk memungkinkan pencatatan kongsi akuisisi tujuan khusus atau SPAC  (special purpose acquisition company, perusahaan cek kosong).

Langkah ini dinilai sebagai cara buat menghidupkan kembali pasar IPO di Singapura.

Reuters mendokumentasikan, pada tahun ini, rekan saham Singapura sebenarnya telah mengungguli banyak  bursa  regionalnya, bahkan indeks acuan Straits Times naik sekitar tujuh, 8% pada penutupan perdagangan Kamis (17/9).

Tetapi penawaran umum pertama di Bursa Singapura tampak tidak begitu menarik.

Bahkan pada tengah pertama tahun ini selalu, Singapura hanya mampu menjadikan tiga IPO saja dengan menghasilkan nilai sekitar US$ 200 juta atau selaras Rp 2, 9 triliun.

Dibandingkan secara Hong Kong cukup primitif jauh di mana Pura Hong Kong mampu mencatatkan 46 perusahaan untuk listing dan mengumpulkan dana mematok US$ 27, 4 miliar atau setara Rp 392 triliun.

Dalam Indonesia, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna Setia mengungkapkan, sampai secara 16 September 2021, ada 38 perusahaan yang melakukan IPO  dengan emisi sebesar Rp 32, 14 triliun.

“Nilai tersebut merupakan perolehan dana terbesar yang dihimpun perusahaan menggunakan IPO sejak Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali rekan modal pada tahun 1977, ” kata Nyoman, kepada awak media, Jumat (17/9/2021).

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)