laba-ambles-dan-diobral-asing-saham-unvr-terendah-8-tahun-1

Faedah Ambles dan Diobral Aneh, Saham UNVR Terendah 8 Tahun

Jakarta, CNBC Nusantara – Saham emiten barang konsumer PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melanjutkan pelemahan pada awal perdagangan pagi ini, Senin (26/7/2021), setelah di dalam Jumat dan Kamis pekan lalu kemarin saham ini juga terkoreksi. Pelemahan saham UNVR terjadi setelah perusahaan yang baru saja merilis laporan kinerja semester-I dengan tertekan.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham UNVR ambles 0, 83% ke posisi Rp 4. 760/saham, dengan nilai transaksi Rp 40 miliar. Volume perdagangan saham UNVR terekam sebesar 8, 5 juta saham.

Seiring dengan melemahnya saham UNVR, asing tercatat ramai-ramai keluar dari bagian ini dengan nilai jual bersih (net sell) menyentuh Rp 11, 3 miliar di pasar reguler.


Pada perdagangan kemarin, saham UNVR juga melorot 4, 48%, sesudah ambruk 1, 95% pada Kamis (22/7). Alhasil, di dalam sepekan, saham emiten dengan melantai di bursa semenjak 1982 ini ambles tujuh, 57%, sementara dalam sebulan turun 4, 80%. Secara year to date (ytd) pun saham UNVR anjlok 35, 24%.

Koreksi keadaan ini menjadikan harga UNVR jatuh ke level terendah sejak 8 tahun terakhir terpatnya di bulan Mei tahun 2013.

Sebelumnya, Unilever Indonesia melaporkan kinerja semester I-2021 atau periode 6 bulan yakni Januari-Juni dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Laba suci UNVR per Juni tercatat sebesar Rp 3, 05 triliun, turun 15, 75% dari periode yang serupa tahun lalu Rp 3, 62 triliun.

Berdasarkan masukan keuangan publikasi di Pasar uang Efek Indonesia (BEI), Jumat ini (23/7), penurunan faedah bersih seiring dengan ralat pendapatan di periode 6 bulan ini. Pendapatan UNVR tercatat Rp 20, 18 triliun, turun 7, 30% dari Juni 2020 sejumlah Rp 21, 77 triliun.

Penjualan dalam negeri menyentuh Rp 19, 29 triliun, turun dari Rp 20, 77 triliun, sementara ekspor juga turun menjadi Rp 888, 11 miliar dari Rp 1 triliun.

Penjualan kepada pihak terafiliasi terbesar yakni ke Unilever Asia Private Limited, Unilever (Malaysia) Holdings Sdn Bhd, Unilever Philippines, Inc., Unilever EAC Myanmar Company Limited, Unilever Australia Ltd, dan Unilever Thai Trading Limited.

Perseroan mencatatkan laba bruto Rp 10, 25 triliun, serupa turun dari sebelumnya Rp 11, 18 triliun, tatkala harga pokok penjualan mendarat menjadi Rp 9, 93 triliun dari Rp 10, 59 triliun.

Adapun bahara pemasaran dan penjualan lulus diturunkan menjadi Rp 4, 22 triliun dari sebelumnya Rp 4, 29 triliun.

Per Juni, jumlah aktiva tercatat Rp 20, 27 triliun, dari Desember 2020 Rp 20, 53 triliun di mana kas & setara kas berkurang drastis menjadi Rp 526, 36 miliar dari Desember 2020 sebesar Rp 844, 08 miliar.

Total kewajiban menyentuh Rp 16, 26 triliun dari Desember 2020 Rp 15, 59 triliun, secara ekuitas Rp 4, 01 triliun dari Desember 2020 Rp 4, 94 triliun.

Ira Noviarti, Presiden Eksekutif Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa pertumbuhan pasar FMCG (Fast Moving Consumer Goods) belum sepenuhnya pulih karena pandemi Covid-19. Ini yang membuat konsumen masih berhati-hati pada memilih pola konsumsi di beberapa kategori basic.

“Berbagai tantangan tersebut tentunya mempengaruhi tingkat pertumbuhan dari perseroan. Kondisi ini juga ditambah dengan kenaikan harga produk yang mulai mempengaruhi biaya produk, ” kata Pangsa, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat ini (23/7).

Pokok itu, perseroan memilih buat fokus untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Perseroan memiliki strategi yang menyeimbangkan keberlangsungan bisnis jangka pendek serta jangka panjang.

“Kami manifestasikan menjadi lima strategi preferensi, mendorong pertumbuhan pasar melalaikan stimulasi konsumsi konsumen, memperluas dan memperkaya portfolio ke value dan premium segment, memperkuat kepemimpinan dalam perubahan dan future channel, implementasi E-Everything di semua garis termasuk penjualan, operasional, & pengolahan data, dan lestari menjadi yang terdepan dalam penerapan bisnis yang berkelanjutan. ”

TIM PENELITIAN CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(trp/trp)