Gokil! China Buat Senjata Hipersonik, Bisa Kalahkan Rudal AS

Gokil! China Buat Senjata Hipersonik, Bisa Kalahkan Rudal AS

Jakarta, CNBC Indonesia –  China tak hanya menjadi kekuatan ekonomi dunia baru, tetapi pula menjadi ‘jagoan’ militer global mengikuti Amerika Serikat (AS) sebagai sherrif -nya dunia. Kini Negeri Tirai Bambu tersebut disebut mengembangkan senjata hipersonik yang bisa mengalahkan rudal balistik pelik Paman Sam.  

Melansir China Power Project dari Center for Strategic & International Studies (CSIS), salah satu sistem terpenting pada kawasan ini adalah Sistem Pertahanan Rudal Balistik (BMD) AS berbasis laut.


Aegis adalah kumpulan sensor, komputer, perangkat lunak, layar, peluncur senjata, dan senjata terintegrasi. Bersama-sama, itu memfasilitasi intersepsi rudal balistik renggang pendek hingga menengah.

Angkatan Laut AS diproyeksikan  bahan memiliki 48 kapal berkemampuan BMD Aegis pada tahun 2021 dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 65 pada tahun 2025.

Saat ini pola pertahanan rudal balistik ini bisa dibilang yang paling canggih  dan  memberikan keamanan dari serangan peluru kendali musuh. Namun  efektivitasnya  menurun akibat  kemajuan teknologi rudal hipersonik.

Sebagai informasi, senjata hipersonik  yang mencakup kendaraan luncur hipersonik (HGV) dan rudal jelajah hipersonik, mampu bergerak di atas lima kali kecepatan suara (Mach 5, atau 1, 72 km/ detik) untuk periode yang lama. Kemajuan dan jalur penerbangan yang mampu bermanuver membuat  senjata ini menjadi sulit dilacak dan dicegat.

China tengah mengembangkan senjata model ini untuk meng- counter sistem pertahanan rudal balistik milik berbagai negara seperti AS, India hingga Jepang. China sudah menginisiasinya sejak enam tahun silam.  

Berbagai uji coba telah dikerjakan China untuk mengembangkan senjata hipersonik. Sejak awal Januari 2014 sampai tutup tahun lalu uji coba dilakukan sebanyak sembilan kali. Delapan sebab sembilan uji coba dilaporkan lulus sementara satu kali tercatat urung.

Senjata hipersonik  China yang kini statusnya kemungkinan sudah beroperasi itu diberi nama DF-17 dan diperkenalkan pertama kali pada 1 Oktober tahun lalu saat parade militer nasional diadakan.  

DF-17  disebut dapat melakukan perjalanan di kecepatan Mach 5-10 (1, 72-3, 43) km/detik) untuk jarak yang sangat jauh hingga 1. 800-2. 500 km. Berikut karakteristiknya:

Pengembangan ‘bombastis’ militer China ini terjadi pada tengah makin panasnya hubungan China dengan sejumlah negara. Presiden China Xi Jinping beberapa kali mengingatkan militernya untuk siap perang.

Terbaru, sebagaimana ditulis South China Morning Post (SCMP), ia berpetaruh ke Angkatan Laut (AL) kampung itu meningkatkan kesiapan tempur berjalan menjaga wilayahnya. Pernyataan ini ditegaskan Xi di tengah konflik yang kian melebar dengan AS dan sejumlah negara di kawasan Bahar China Selatan, termasuk Taiwan.

Sementara itu, negara asing yang juga mengembangkan senjata hipersonik ini adalah Rusia. Senjata hipersonik yang dikembangkan Rusia disebut apalagi lebih canggih dibandingkan China.

Pada Desember 2019, Rusia menyatakan telah berhasil menerapkan sistem Avangard hipersonik. Ini diklaim Rusia dapat melakukan perjalanan dengan kemajuan Mach 20 (6, 86 km/detik) dengan jangkauan terbang lebih sejak 6. 000 km.

Tak mau kalah, AS serta India pun mengembangkan senjata yang sama. Pada Maret 2020, AS menguji kendaraan luncur hipersonik di uji terbang jarak jauh untuk  melanjutkan penelitian dan pengembangannya selama bertahun-tahun.

Sementara itu, India pertama kali berhasil melaksanakan demonstrasi rudal hipersonik jarak pendek pada September 2020.  

Beberapa negara kini pantas membangun sistem pertahanan untuk menanggapi ancaman yang ditimbulkan oleh rudal hipersonik. Pada Maret 2020, Rusia mengklaim bahwa sistem pertahanan peluru kendali S-400 berhasil menghancurkan semua rudal hipersonik dalam latihan tembak langsung.

AS telah mengacu beberapa program untuk mengembangkan pertahanan rudal hipersonik, termasuk Glide Breaker, Sistem Senjata Pertahanan Hipersonik, Pola Senjata Fase Glide Regional, 9 dan Sensor Ruang Pelacakan Hipersonik dan Balistik.

Semenjak 2020, Badan Pertahanan Rudal GANDAR telah menyelidiki cara untuk menyatukan mekanisme pertahanan kendaraan luncur hipersonik ke dalam arsitektur pertahanan rudal balistik AS yang ada, termasuk Aegis.

Jumlah senjata hipersonik global masih sedikit untuk saat ini. Banyak pembuat kebijaksanaan menganggap teknologi itu penting untuk masa depan pencegahan rudal.

Negara-negara yang mampu menahan teknologi dan meningkatkannya akan mendapatkan keuntungan yang signifikan dibandingkan negeri2 yang hanya menggunakan sistem pertahanan rudal tradisional.

Kelebihan itu akan bertahan hingga imbangan mereka mampu mengembangkan sistem pertahanan yang andal melawan senjata hipersonik. Pengembangan senjata rudal hipersonik  China memberikan keunggulan bagi negara itu yang sekarang sedang menjadi sorotan global akibat pandemi  Covid-19, pertama dari rivalnya  AS.

Pengembangan teknologi di bidang pertahanan dan militer yang canggih dilakukan di tengah tingginya tensi geopolitik global yang terus tereskalasi.  

(twg)