Kebahagiaan Lebaran! Dahlan Cerita Temuan Vaksin Corona dari China

Kebahagiaan Lebaran! Dahlan Cerita Temuan Vaksin Corona dari China

Jakarta, CNBC  Indonesia semrawut Kabar Baik! Saat lebaran ada berita vaksin virus corona (covid-19) potensial yang dikembangkan di China berhasil memicu antibodi penawar di puluhan pasien dalam uji klinis tahap awal. Ini menjadi metode penting dalam pengembangan vaksin yang mungkin memberikan kekebalan terhadap Covid-19.

Kandidat uji coba vaksin sebelumnya juga diinduksi dengan antibodi yang mengikat pada sebagian tinggi pasien corona yang telah terkena 28 hari. Uji coba fase satu yang diterbitkan Jumat lulus di jurnal kesehatan The Lancet, kandidat vaksin covid-19 terpantau aman dan vaksin dapat ditoleransi dengan baik pada tubuh kandidat vaksin.

Kabar soal penemuan vaksin itu, rupanya selalu diikuti oleh Menteri Badan Cara Milik Negara (BUMN) Dahlan  Iskan. Mantan direktur utama PLN  itu memang dikenal punya jaringan merata di Negeri Panda. Itu sebabnya dia punya update banyak soal perkembangan penelitian virus di China.


Dalam blog  pribadinya,   https://www.disway.id/, Dahlan mencerita update terakhir dari penilitian  vaksin  virus yang dilakuakan  Mayjen Chen Wei, ilmuwan China yang merupakan ahli virus.

Tetapi ada yang kocal dalam gubahan Dahlan  kali, sebelum dia menjelaskan soal perkembangan terbaru dari vaksin virus tersebut, Dahlan  sempat menyoal soal konflik masker yang membawabawa salah seorang ulama di Jawa Timur dengan aparat kepolisian serta satpol  PP.  

Lalu apa benang merah dibanding penemuan vaksin virus corona serta konflik masker ulama lawan abdi yaitu virus corona itu sendiri. Nah untuk tahu lebih lengkap soal update vaksin corona tersebut, mari simak tulisannya:

Vaksin Lebaran

Tersedia kabar sangat baik di Hari Raya Idul Fitri hari itu. Yakni kabar tentang vaksin segar Covid-19. Yang ditemukan Mayjen Chen Wei itu.

Tapi kita bahas dulu kabar yang kurang baik. Mengenai konflik masker di pinggir pekerjaan tiga hari lalu. Yang membawabawa seorang ulama terkenal Jatim. Yang videonya beredar luas di medsos itu.

Salahkah ulama itu –karena tidak pakai masker?

Jawabnya: salah. Jika itu di luar rumah.

Bagaimana jika di dalam mobil seperti pada video itu?

Jawabnya: salah. Kalau itu mobil umum.

Kalau mobil pribadi?

Saya tidak tahu: bunyi peraturan pemerintahnya semacam apa.

Tapi kita semua punya akal sehat. Kalau akal sehat dipakai konflik tidak perlu terjadi.

Menurut akal sehat saya: sepanjang mobil awak itu “steril”, tidak memakai kedok di dalamnya tidak salah.

Yang beta maksud “steril” adalah: yang di dalam mobil itu keluarga tunggal, keluarga satu rumah.

Yang seperti tersebut, tidak pakai masker mestinya tak apa-apa –meskipun kalau pakai kedok lebih baik.

Akan terasa lucu kalau suami-istri-anak diwajibkan pakai masker saat mereka lagi dalam satu mobil. Padahal suami-istri itu, di rumah, berpelukan –tanpa masker. Bahkan mengenai badan –tanpa masker. Paling-paling yang pakai masker suaminya –itu biar bukan di wajah.

Bagaimana kalau sopirnya orang lain?

Sopir itu wajib memakai masker. Juga wajib cuci lengah dengan sabun sebelum masuk mobil. Pun semua pegangan pintu tetap disemprot disinfektan.

Dengan tindakan seperti itu, mestinya, aman dari penularan.

Mengapa perkara pakai masker di dalam mobil ini sampai menimbulkan pertengkaran di pinggir jalan? Sampai jadi tontonan yang memalukan se-Indonesia? Seperti yang melibatkan ulama besar di Bangil, Jatim itu?

Saya lihat mobil yang ditumpangi ulama itu mobil pribadi. Sopirnya pakai masker. Sang ustazah sendiri membawa masker. Tapi tak dipakai di dalam mobil itu. Alasannya, masker itu akan dipergunakan menjelang turun dari mobil.

Sang ulama juga menjelaskan ia tahu bahayanya virus ini. Ia juga ngerasa wajib menjaga diri dan karakter lain. Tapi ia punya cara, yang menurut ia tetap tenang: di dalam mobil itu belum perlu memakai masker. Tapi ia benar akan pakai masker kalau mendarat dari mobil.

Saya pusing menyaksikan peristiwa seperti ini: yang berlebihan itu petugasnya atau ulamanya.

Saya sendiri kerap melakukan seperti yang dilakukan ustaz itu. Kalau lagi di mobil –dan yang di pada mobil itu hanya istri — saya tidak mengenakan masker.

Tapi saya membawa masker. Bahkan beberapa. Serupa membawa cairan disinfektan. Masker tersebut akan saya pakai menjelang mendarat dari mobil.

Setingkat orang yang mempunyai mobil bagus, rasanya sudah banyak yang menggunakan akal sehat bagaikan itu.

Saya khawatir konflik semacam itu cuma merugikan semua pihak. Terutama kalau dikaitkan dengan rasa keadilan. Misalnya: yang seperti itu dipersoalkan datang bertengkar. Tapi yang mudik berjubel dibiarkan. Dan banyak yang asing lagi.

Tapi kalau saya jadi ustazah itu saya akan mengalah saja: toh di Jatim ada pameo “sing waras ngalah”.

Saya akan tepat minta maaf ke petugas tersebut, lalu mengenakan masker. Setelah jauh dari petugas, kalau mau, kedok dilepaskan lagi. Nanti pakai yang baru lagi kalau dekat penelitian.

Toh budaya timur mengenal “minta maaf meski tidak bersalah”.

Yang penting seluruh orang punya prinsip: masing-masing benar mampu menjaga diri dari virus. Juga menjaga orang lain.

Yang pula penting: menjaga perdamaian.

Minal aidin wal faizin.

Mohon maaf lahir batin.

Oh, bercakap-cakap.

Dekat lupa.

Tentang kabar baik tadi.

Serupa apa?

Kemarin media di Tiongkok melaporkan video. Dari kota Wuhan. Isinya orang antre di pusat pengoperasian virus dan penyakit menular pada kota itu.

Video itu diberi situasi belakang lagu “Imagine” dari penyanyi legendaris Inggris John Lennon. Jadi karena misi lagu itu dasar memimpikan dunia tanpa agama.

Yang berurut tersebut adalah relawan uji coba vaksin Covid-19. Uji cobanya sudah selesai. Sukses.

Mereka sudah dua kali disuntik vaksin anti-Covid-19. Selama 3 bulan terakhir. Tanggal 15 Mei lalu mereka dinyatakan sudah mempunyai antibodi Covid-19.

Hebat sekali.

Bagaimana dengan pengaruh samping?

Tidak ditemukan efek samping barang apa pun –sampai hari kemarin. Mereka dinyatakan sehat. Boleh pulang.

Mereka lantas mendapatkan sertifikat sebagai relawan. Yang di dalamnya tertera materai dari lembaga pengendalian virus dan penyakit menular di Wuhan itu. Pula mendapat tanda tangan Mayjen Chen Wei, kepala lembaga itu.

Yang menyerahkan surat adalah juga si bintang kejora sendiri: Mayjen Chen Wei. Dia seorang wanita yang dikenal jadi ilmuwan bidang virus.

Ia sendiri membuktikan tetap harus hati-hati. Sebelum melahirkan itu. Tipikal sikap ilmuwan.

Kita susunan menunggu kapan produksinya. Lebih istimewa lagi: kapan sampai Indonesia. Mumpung belum lebih banyak yang bertengkar di pinggir jalan.

(Dahlan Iskan)

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)