Luhut: Tak Benar Tenaga Kerja Aneh akan Jajah Kita!

Luhut: Tak Benar Tenaga Kerja Aneh akan Jajah Kita!

Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marvs) Luhut Pandjaitan  menegaskan Indonesia masih membutuhkan kepakaran dan teknologi tenaga kerja ganjil (TKA) dalam proyek investasi dalam Indonesia. Ia membantah bahwa keberadaan tenaga kerja asing akan menjajah Indonesia, karena jumlahnya memang dibatasi.

Ia mencontohkan PT Bintan Alumina Indonesia saat itu mempekerjakan sekitar 20. 000 tenaga kerja dan hanya kurang dari 10% dari jumlah itu ialah tenaga kerja asing.

Luhut  juga mencontohkan di Morowali dan daerah lainnya, tenaga kegiatan asing itu mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan oleh tenaga kerja lokal  di Indonesia. Dengan bertahap mereka akan bangun Politenik.


“Jadi tidak benar pendapat yang mengutarakan TKA akan menjajah kita, tidak seperti itu. Tidak ada sektarian seperti itu sama sekali. Mereka mengabulkan hal yang kita belum mampu lakukan. Seperti merakit mesin-mesin dengan canggih, tetapi tenaga kerja lokal terus dilibatkan sehingga ada transfer pengetahuan. Ini menyiapkan Indonesia untuk melakukan leapfrog dalam industri ini, ” papar Luhut  usai meninjau PT Bintan Alumina Indonesia dalam Pulau Bintan, Kamis (2/7/2020).

Ia juga menceritakan perkara ‘harta karun’ yang dimiliki Indonesia. ‘Harta karun ini ternyata mampu dijadikan bahan membuat pesawat serupa.

Harta karun itu merupakan pengolahan bauksit, alumina, & turunannya. Dalam proses tersebut ternyata bisa menambah pasokan material buat mobil listrik dan mengurangi memasukkan bagi kebutuhan industri dalam daerah.

“Industri ini mengerjakan bauksit menjadi alumina kita bisa produksi turunannya yang bisa dijadikan untuk badan pesawat, kabel, kawat tembaga, tekstil, alat-alat elektronik & lain. Turunan bauksit, seperti copper, nickel ore, bisa menjadi material untuk memproduksi mobil listrik, ” kata Luhut.

“Smelternya di Weda Bay sehingga dekat dengan pabrik lithium baterai, ” katanya lagi.

Luhut menjelaskan, industri alumina ini juga akan mengurangi impor kebutuhan cobalt yang selama ini diimpor daripada Kongo.

Industri yang saat ini menempati kawasan seluas 300 ha rencananya akan diperluas hingga 500 ha dengan investasi saat ini 600 juta dollar tapi nanti pada tahun 2027 bisa berkembang sampai 2, 5 miliar dolar.

“Selama ini kita tidak pernah tak impor alumina. Dengan adanya pabrik ini kita menghentikan ekspor bauksit, mengurangi impor alumina. Karena kebutuhan alumina selama ini selalu ekspor. Inalum, contohnya, selama ini mereka impor dari Australia. Cost-nya hendak jauh lebih murah dengan alumina kita. Jadi ini industri yang bisa melayani supply chain pada negeri sampai global, ” jelasnya.

Menurutnya ini ialah proyek yang sangat strategis, karena produk turunannya bisa diekspor ke Amerika, Tiongkok, Jepang, dan lain-lain.

Saksikan video terkait di lembah ini:

(hoi/hoi)