menanti-dampak-ekonomi-kontrak-belanja-alutsista-indonesia-1

Menyambut Dampak Ekonomi Kontrak Bayaran Alutsista Indonesia

Pada 10 Juni 2021, Fincantieri mengumumkan bahwa Indonesia telah menandatangani kontrak masukan enam fregat kelas FREMM dan dua fregat kelas Maestrale. Sementara itu, sebesar sumber kredibel menyatakan kalau Indonesia juga telah menandatangani kontrak pembelian 36 jet tempur Rafale dengan Dassault Aviation beberapa hari sebelumnya. Sampai saat ini belum ada konfirmasi resmi dari Kementerian Pertahanan. Namun semasa kedua kontrak itu benar, maka total nilai perikatan diperkirakan sekitar US$12 miliar.

Dengan berasumsi bahwa memang benar Nusantara telah menandatangani kontrak pengadaan fregat dan jet menyerbu, maka penandatanganan sejumlah kontrak itu nampaknya untuk menunjukkan sinyal keseriusan Indonesia pada para produsen senjata negeri. Ini karena terdapat kesan bahwa beberapa prime contractors Barat kurang berminat buat menawarkan solusi mereka kepada Indonesia karena di periode silam Jakarta memiliki masalah dengan pendanaan.

Tidak dapat dimungkiri kesepakatan kontrak untuk major weapon system memang rumit. Berkaca dari pengalaman Minimum Essential Force (MEF) 2015-2019, negosiasi teknis beberapa major weapon system memakan waktu lebih dari dua tahun, bahkan ada yang hingga saat ini belum memasuki tahap produksi walaupun kontraknya telah efektif.

Setelah penandatanganan kontrak dengan pabrikan pokok Italia dan Prancis, Nusantara memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan bahwa kontrak itu akan memasuki status efektif dan membawa alutsista-alutsista itu ke Indonesia dalam kira-kira tahun mendatang. Suatu kontrak akan efektif apabila sudah dilakukan pembayaran uang depan oleh pembeli kepada Original Equipment Manufacturer (OEM).

Dalam konteks pola birokrasi Indonesia, suatu kontrak harus didukung oleh Jadwal Rencana Pinjaman Luar Jati (DRPLN), Daftar Rencana Preferensi Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN), Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP), loan agreement dan Rupiah Murni Pendamping (RMP). Disini dibutuhkan suatu seamless coordination antara Kemenhan kepada Departemen Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas serta Kementerian Keuangan agar persetujuan tersebut dapat mencapai periode effective date of contract.

Karena biaya senjata dibiayai oleh PLN, secara otomatis sebagian tinggi alokasi utang tersebut mau dibelanjakan di negara penyelenggara senjata. Namun terdapat peluang agar utang itu mampu memberikan dampak positif pula terhadap ekonomi Indonesia daripada sekadar habis di negeri produsen senjata saja. Indonesia menerapkan kebijakan imbal dagang, konten lokal dan offset untuk meningkatkan kemampuan pendudukan teknologi industri pertahanan sekaligus meraih keuntungan ekonomi sebab kegiatan pengadaan alutsista. Buat itu dibutuhkan suatu patokan yang dapat mengukur kapasitas industri pertahanan yang nantinya akan terkait dengan arah ekonomi.

Mengacu pada keterangan Janes tentang kemampuan industri pertahanan Indonesia, kemampuan pabrik sea system adalah moderate, air system yaitu moderate-weak dan C4ISR berstatus weak-moderate. Moderate artinya resiko bagi industri pertahanan lokal di hal delay, penalti, knowhow dan lainnya berada di dalam tingkat sedang. Moderate-weak maksudnya resiko bagi industri pertahanan dalam negeri terkait delay, penalti, knowhow dan asing sebagainya berada pada level lebih besar. Adapun weak-moderate yakni resiko bagi pabrik pertahanan tempatan dalam peristiwa delay, penalti, knowhow dan lain-lain berada pada tingkat sangat besar.

Terkait akuisisi FREMM serta Rafale, potensi offset berkecukupan pada produksi modul kapal perang, manufaktur komponen pesawat tempur dan alih teknologi elektronika pertahanan. Namun mematok sekarang belum ada data valid mengenai paket offset apa saja yang ditawarkan oleh Fincantieri dan Dassault Aviation kepada Indonesia dan berapa persen nilainya sejak kontrak. Begitu pula sebaliknya, paket offset apa saja yang diminta oleh Indonesia dari kedua prime contractors dan berapa persen nilainya dari kontrak.

Tawaran offset dari OEM selalu memperhatikan kapasitas pendudukan teknologi oleh industri calon penerima offset. Lalu bagaimana kapasitas industri pertahanan buat menyerap teknologi yang ditawarkan oleh OEM? Ini ialah hal kritis karena bersandarkan pengalaman penulis, para industriawan senjata asal Barat sedang meragukan kemampuan industri pertahanan Indonesia untuk menyerap teknologi tinggi yang mereka tawarkan sebagai offset. Tidak kurang untuk dapat memenuhi offset, industri pertahanan mitra OEM harus melaksanakan investasi terlebih dahulu di lini produksi.

Apabila paket offset telah disepakati oleh Indonesia dengan Fincantieri serta Dassault Aviation, baru dapat dikalkulasi berapa potensi makna ekonomi yang bisa didapatkan dari kedua kontrak melalui offset. Tanpa ada keterangan yang valid, sulit buat menghitung dampak pembelian senjata asal Italia dan Prancis terhadap ekonomi Indonesia had akhir dekade ini mencuaikan program offset.

Sebagai perbandingan, Indonesia meraih offset sebesar 35% daripada nilai pembelian F-16A/B Block 15 OCU sebesar US$337 juta pada 1986, di mana US$18 juta mengalir ke PT IPTN sebagai subkontraktor General Dynamics. Secara asumsi nilai kontrak 36 Rafale adalah US$7 miliar, berapa ratus juta dolar AS atau berapa miliar dolar AS yang akan mengalir ke PT PADA dan PT LEN Industri?

Dari uraian tersebut, tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan kontrak akuisisi senjata dari Italia dan Prancis setidaknya terbagi dalam dua front. Mula-mula adalah memastikan kontrak bisa mencapai status efektif melalui mekanisme pembiayaan pemerintah. Kedua yaitu memastikan kontrak itu memberikan keuntungan ekonomi juga kepada Indonesia lewat kalender offset.

Istimewa bagi Indonesia untuk mempunyai senjata yang kualitasnya tak diragukan sehingga dapat berkontribusi terhadap kepentingan nasional Nusantara dan stabilitas keamanan tempat. Namun, tidak kalah penting pula dampak positif akuisisi senjata dari luar jati terhadap ekonomi nasional sekali lalu meningkatkan kapasitas penguasaan teknologi industri pertahanan nasional.


(miq/miq)