Pasar RI Libur, Kurs Dolar Singapura Malah Terendah 2 Bulan

Pasar RI Libur, Kurs Dolar Singapura Malah Terendah 2 Bulan

Jakarta, CNBC Indonesia –  Nilai tukar dolar Singapura melemah dalam 2 hari terakhir melawan rupiah hingga ke lapisan terendah nyaris 2 bulan terakhir, meski pasar finansial Indonesia sedang libur.

Sejak Rabu hingga hari ini, Jumat (30/10/2020), pasar finansial dalam negeri libur cuti bersama, dalam rangka bergandengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Kamis kemarin, dan baru dibuka lagi pada Senin (2/10/2020) minggu depan.

Meski demikian, tetap saja rupiah berjaya melawan dolar Singapura di pasar luar daerah.


Melansir data Refinitiv, dolar Singapura kemarin melemah 0, 12% ke Rp 10. 692, 61/SG$ yang merupakan level terendah sejak 2 September lalu. Tengah pada hari Rabu, mata kekayaan Negeri Merlion ini melemah 0, 35%.

Baru di hari ini, dolar Singapura bangkit 0, 14% ke Rp 10. 707, 48/SG$ pada pukul 13: 24 WIB. Wajar dolar Singapura balik menguat, ada faktor teknikal melihat posisinya di level terendah dalam 2 bulan terakhir. Apalagi pekan depan Indonesia akan merilis data pertumbuhan ekonomi.

Indonesia sudah pasti mengalami yang pertama kalinya dalam 22 tahun terakhir, tetapi seberapa besar pengurangan ekonomi yang menjadi misteri, dan dinanti pelaku pasar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi kuartal III-2020 akan berada di kisaran kurang 1% hingga 2, 9%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2020 akan dirilis pada 5 November mendatang, setelah mengalami pengurangan 5, 32% di kuartal II-2020.

Singapura sudah terlebih dahulu mengalami resesi di kuartal II-2020, bahkan bersambung di kuartal III. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura pada pertengahan Oktober lalu melaporkan PDB kuartal III-2020 sebesar -7% year-on-year (YoY).

Meski masih berkontraksi, tetapi lebih baik dari kuartal sebelumnya -13, 3% YoY. Di kuartal I lalu, PDB juga menemui kontraksi, -0, 3% YoY, jadi Singapura resmi memasuki resesi sejak kuartal II lalu.

Secara umum, suatu negara dianggap mengalami resesi jika PDB menemui kontraksi 2 kuartal beruntun secara YoY.

Sehingga, Singapura kini sudah mengalami resesi semasa 9 bulan. Kabar baiknya, menurut National Bureau of Economic Research (NBER), lembaga swasta non-profit pada AS, rata-rata lamanya waktu resesi adalah 11 bulan, artinya ada peluang Singapura akan sebentar sedang akan bangkit.

Tetapi patut digarisbawahi, resesi kali itu tidak seperti sebelumnya yang dikarenakan oleh pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Jadi, pemulihan ekonomi mau sangat tergantung dari kesuksesan meredam penyebaran Covid-19.

International Monetary Fund (IMF) dalam petunjuk terbarunya memprediksi PDB Singapura sepanjang 2020 akan mengalami kontraksi sebesar 6%, tetapi akan tumbuh 5% di tahun depan.

TIM PENELITIAN CNBC  INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)