Peduli, Kerumunan Massa Bisa Membuat Klaster Covid-19

Peduli, Kerumunan Massa Bisa Membuat Klaster Covid-19

Jakarta, CNBC  Indonesia – Kegiatan masyarakat yang mengundang kerumunan terbukti berpotensi besar terjadinya bahaya penularan Covid-19. Bahkan kegiatan kerumunan tersebut mengemukakan klaster-klaster baru di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahaya penularan Covid-19 masih terjadi.

“Berdasarkan data nasional, terdapat berbagai kegiatan kerumunan yang berdampak di dalam timbulnya klaster penularan Covid-19 pada berbagai daerah di Indonesia, ” ungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Kantor Presiden, seperti dikutip Sabtu (28/11/2020).

Rincian kasusnya, beberapa waktu berarakan pada Sidang GPIB Sinode dengan menghasilkan 24 kasus pada 5 provinsi. Klaster ini berawal dari kegiatan agama yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, yang diikuti 685 peserta. Yang berkembang serta menyebar ke provinsi lainnya yaitu Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat.


Lalu, klaster kegiatan Bisnis Tanpa Riba menghasilkan 24 kasus di 7 provinsi dan menimbulkan korban jiwa sebesar 3 orang atau case fatality rate kasus ini mencapai 12, 5%. Sama seperti klaster GPIB Sinode, klaster ini berawal dari kegiatan yang ada di Enau yang diikuti 200 peserta. Kasusnya berkembang dan menyebar ke bermacam-macam provinsi seperti Lampung, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Papua.

Di Lembang, Jawa Barat terdapat klaster Gereja Bethel. Kegiatannya melibatkan sekitar 200 pengikut menghasilkan 226 kasus dengan infection rate mencapai 35%. Lalu, klaster Ijtima Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan, dengan total peserta sekitar 8. 761 orang menghasilkan 1. 248 kasus pada 20 provinsi. Dan klaster Pondok Pesantren Temboro di Jawa Timur menimbulkan 193 kasus di 6 provinsi dalam lebih dari 14 kabupaten/kota dan 1 negara lain.

“Jadi tidak heran bahwa klaster tersebut terjadi karena adanya gerombolan di masyarakat. Dan masyarakat mau sulit menjaga jarak, ” imbuh Wiku.

Fenomena klaster kerumunan juga pernah terjadi masa kapal pesiar besar Diamond Princess, mengangkut 2000 – 4000 penumpang dan harus dikarantina di Jepang pada bulan Februari tahun 2020. Dan kondisi di dalamnya penuh sesak dan sulit menjaga jeda. Akibatnya, sebesar 17% dari 3. 700 penumpang dan awak kapal terinfeksi Covid-19.

Berbagai pengalaman ini, sesuai penelitian dari Ibrahim dan Memish tahun 2020. Yang menyatakan kalau kemungkinan adanya hubungan dua pedoman antara kerumunan dan penyebaran keburukan menular. “Dan ini penting buat menjadi perhatian publik, bahwa suasana kerumunan itu harus dihindari, ” lanjut Wiku.

Efek dari adanya kerumunan berpeluang gede menjadi 3T. Yaitu testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan) dan treatment (perawatan) yang harus dilakukan segera dan menyeluruh. Karena periode inkubasi kurun terpapar virus dan gejala sama hanya 5 hari. Dan isyarat dapat muncul 2 hari lalu.

“Jika bisa disimpulkan, bahwa ada waktu sekitar 3 hari terhadap kontak erat tersebut dilacak. Dan diisolasi segera, pra terus melanjutkan penularan ke gelung yang lebih luas lagi. Aku minta kesadaran dan kerjasama buat tidak berkerumun. Karena apa yang kita semai, inilah yang akan kita tuai. Jangan gegabah & egois, ” pesan Wiku.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/roy)