pilot-project-konversi-bbm-ke-lng-di-kereta-mulai-10-agustus-1

Penerbang Project Konversi BBM ke LNG di Kereta Berangkat 10 Agustus

Jakarta, CNBC  Nusantara – Dalam rangka mempercepat konversi BBM ke LNG untuk kereta Elektrik, BPH Migas bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) dan PT  PGN LNG menggelar pertemuan pada Kantor Pusat KAI pada Bandung, (24/05/2021). Hadir pada pertemuan tersebut Kepala BPH Migas M Fanshurullah Kehendak, Anggota Komite BPH Migas Ahmad Rizal berserta Awak, Direktur Prasarana KAI Gegana Hermawan Purwadinata dan Corporate Deputi Director Logistic Suparno, VP Engineering  PGN LNG Andri Oscarianto Ginting.

M Fanshurullah Asa berharap semakin sinergis ke depan antara BPH Migas, KAI dan PGN LNG. Menurutnya PGN LNG ialah ujung tombak PGN jadi subholding gas di pada membangun storage LNG container maupun isotank untuk penyimpanan.

“Sudah 7 bulan disepakati rencana mendaulat energi dari BBM sumbangan ke LNG, bahkan sempat bersama-sama meninjau sampai Gundukan Asam. Bersama-sama memikirkan keinginan nasional, dengan upaya menekan penggunaan subsidi, ” membuka Ifan, sapannya.


Lebih lanjut Ifan menyampaikan Kuota 1 juta KL yang ditetapkan sebab BPH Migas selama itu diberikan untuk non transportasi mobil kendaraan darat. Berarti 1 juta KL tersebut untuk KA dan kapal laut. Sehingga dibutuhkan ide-ide kreatif termasuk konversi daripada BBM subsidi ke LNG.

“Gas kita di desa bertumpuk. Selain itu, itu amanah UU Migas kausa 8 dan 46 untuk memaksimalkan gas bumi untuk kepentingan dalam negeri” tambahan Ifan.

Menurutnya hal ini bukan imajiner, fakta membuktikan bahwa pada dunia sudah banyak digunakan, lokomotif menggunakan LNG kaya di USA, Rusia, Canada bahkan India. Artinya, Indonesia pun mesti bisa, apalagi mengurangi subsidi, clean energi, mengurangi pemanasan global, penggunaan gas yang melimpah.

“Bulan Juli maupun Agustus ini mestinya sudah berjalan pilot project, sebab MoU BPH Migas dengan KAI sudah dari th 2017. Sehingga penting progressnya, segera action terukur, ” ujar  Ifan. Lanjutnya, bahwa misalnya lokomotif belum memungkinkan, itu next time, berjalan dulu.

BPH Migas memiliki kesungguhan kontrak untuk konversi ini cepat diwujudkan, paling tidak untuk penerangan gerbong dulu serupa berproses untuk lokomotif. Kalaupun seandainya harus studi Benchmark ke Rusia, USA ataupun kemana saja, mesti kita siapkan.

Corporate Deputi Director Logistic KAI Suparno menyampaikan bahwa transmutasi ini sesuatu yang gres, terlebih dirinya baru menjabat di posisi ini. Uji coba saat ini pertama sebatas genset penerangan, dan tentu akan terus diupayakan juga selain gerbong, nanti juga perlu untuk lokomotif. Akan terus dikoordinasikan, jadi bagian logistik akan memback up segala yang diperlukan unit-unit teknis.

“Covid-19 merubah mainset mengarah ikhtiar efisiensi, ini adalah hikmah yang kita dapatkan. Ekonomi harus hidup, akan tetapi penyebaran virus harus berhenti”, ujarnya.

Penasihat Prasarana KAI Awan Hermawan menyampaikan bahwa hasil uji coba terkait rencana pemakaian bahan bakar LNG, sebelumnya menggunakan BBM B30, tatkala Menteri ESDM sudah membidikkan untuk menggunakan B100.

Selanjutnya Vice President Technical Engineering of Rollingstock Singgih Priyambodo mengajak mengupdate sejauh mana proses telah berjalan. Untuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) tidak tersedia yang spesifik, karena dari agreement sesungguhnya sudah lulus.

Lebih khusus terkait efisiensi yang didapatkan saat dinilai sementara ini 20%, sesungguhnya bukan sesuatu yang valid masih menetapkan diperdalam dengan pengujian nanti. Titik mana mencapai efisiensi yang tinggi, ini dengan masih perlu diuji. Masa ini sudah disesuaikan, genset sdh 500 kva sehingga memadai jika diterapkan transmutasi. Yang perlu pertimbangan, jika sudah berhasil diaplikasikan, terang akan ada space tempat penempatan di lokomotif, tersebut tentu menjadi bahan masukan juga terkait ruang termanfaatkan untuk sektor lain berkurang, ini juga terkait perkiraan komersialisasi.

Kepala BPH Migas meminta komitmen PKS dipertegas waktunya, sebab pergeseran schedule 1 item, akan menggeser juga yang lain. Untuk
menjelma perhatian serius adalah relevansi makro, yakni kepentingan nasional. Anggota Komite BPH Migas Ahmad Rizal menegaskan pentingnya kepastian PKS dimulai, supaya jelas tanggungan masing-masing, terukur jelas progressnya. Karena tersebut terkait misalnya penyiapan material, keselamatan dan lain-lain, wajib terukur. Termasuk dalam menganjurkan kepada subholding.

VP Engineering PGN LNG Andri Oscarianto Ginting mengantarkan bahwa pihaknya sudah menyelenggarakan uji coba dan tetap koordinasi dengan KAI. Di prinsipnya komitmen dan langsung berusaha agar konversi tersebut segera bisa diwujudkan, namun jangan lupa karakteristik penggunaan LNG penting untuk dipelajari. Mengenai tanggung jawab pihak-pihak serupa demikian. Terkait uji jika, sebaiknya juga dicantumkan dalam PKS, juga waktu dan tempatnya.

Tengah ini, sisi efisiensi penggunaan LNG pasti lebih tepat, tetapi tentu perlu kita lihat mesin. Jika mesin sudah tua, tentu efisiensi akan berkurang. Berbeda bila kondisi mesin masih mutakhir, maka efisiensi akan bertambah tinggi. Langkah awal cepat survei, selain itu kalau diperlukan percepatan agreement dan  PGN LNG menyatakan jadi. Pertemuan menghasilkan kesepakatan kalau 10 Agustus 2021 konversi BBM ke LNG formal dimulai.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)