suspensi-dibuka-saham-bank-anthoni-salim-nyaris-arb-1

Penundaan Dibuka, Saham Bank Anthoni Salim Nyaris ARB!

Jakarta, CNBC Indonesia berantakan Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka suspensi (penghentian sementara) perdagangan saham PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), bank milik Persekutuan Salim, mulai Rabu 21 Juli hari ini. Namun saat dibuka, saham BINA nyaris menyentuh auto reject bawah (ARB) 7%.

Data perdagangan menunjukkan, saham BINA anjlok 5, 65% di level Rp 5. 450/saham, kendati sebelumnya sempat melemah hingga 6% lebih. Pada pukul 10. 01 WIB, saham MENDIRIKAN turun hingga 6, 06% di Rp 5. 425/saham.

Nilai transaksi saham BINA mencapai Rp 21, 17 miliar secara volume perdagangan 4, 87 juta saham. Kapitalisasi rekan saham BINA mencapai Rp 31 triliun.


Dalam sebulan final saham BINA masih terbang 12, 79% dan 3 bulan terakhir meroket 244%. Sebelumnya BEI sudah mendiamkan sementara alias suspensi bagian bank BINA ini semenjak Jumat 9 Juli lulus, atau sudah 7 keadaan perdagangan Bursa.

Suspensi ini dilakukan karena pergerakan bagian BINA yang signifikan. Sebelum suspensi dibuka, dalam 6 bulan terakhir saham MENDIRIKAN meroket 737%.

BEI  pun mencecar manajemen BINA soal kabar  pembicaraan gadai saham atau repurchase agreement (repo), aksi korporasi, hingga rencana divestasi pemegang saham pengendali.

Dalam suratnya kepada BEI, manajemen BINA pun menyambut dalam suratnya terkait secara sejumlah pertanyaan otoritas pasar uang itu.

Melanda gadai saham, manajemen MENGARAHKAN menegaskan perseroan tidak mendapati adanya aktivitas gadai saham (repo) yang dilakukan sebab pemegang saham perseroan.

Selain itu, manajemen perusahaan juga menyatakan tidak menerima sejumlah dana sebab hasil repo tersebut.

“Perseroan tidak menyelami perihal rencana divestasi (penjualan) saham yang dilakukan pemegang saham utama perseroan, ” kata Ria dalam bahan surat tersebut, ketika bursa menanyakan apakah ada program divestasi dari pemegang bagian utama bank ini, ” tulis Ria Sari Sidabutar, Sekretaris Perusahaan BINA, di dalam surat penjelasannya.

Manajemen BINA juga menegaskan tidak akan terjadi pergantian kepemilikan pemegang saham masa ini, yakni Anthoni Baik melalui PT Indolife Pensiontama, ke pemegang saham segar. Salim disebutkan menjadi ultimate shareholder (entitas terakhir penerima manfaat) BINA.

Per 30 Juni 2021, Grup Salim melalui organ investasinya Indolife Pensiontama, yang menjadi pemegang saham pengurus BINA, menguasai 22, 47% saham perusahaan.

Perusahaan meyakini kenaikan kehormatan saham yang terjadi kurang waktu lalu disebabkan karena kinerja perusahaan yang menyusun dan sustain dengan adanya ekosistem yang luas.

Selain itu, kemajuan harga saham juga dikarenakan karena adanya rencana gerak-gerik korporasi yang akan dilakukan dalam rangka peningkatan modal dan pengembangan layanan perbankan.

Perusahaan akan melakukan aksi korporasi Permohonan Umum Terbatas (PUT) III dengan memberikan Hak Mengambil Efek Terlebih Dahulu (HMETD/rights issue) sebanyak 2 miliar saham dengan nominal Rp 100/saham.

Aksi korporasi ini akan dilakukan pada semester kedua tahun ini dan telah memperoleh persetujuan pemegang saham pada 16 Juni 2021 semrawut.

Dengan disetujuinya rights issue ini, Anthony Salim, selaku ultimate shareholder berpeluang menambah porsi kepemilikan sahamnya pada Bank Ina.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)