ramalan-suram-ekonomi-ri-dan-kerja-berat-untuk-sri-mulyani-1

Ramalan Suram Ekonomi RI & Kerja Berat untuk Sri Mulyani

Jakarta, CNBC Indonesia – Kasus Covid-19 di Indonesia masih menunjukkan angka peningkatan yang signifikan. Dalam beberapa hari belakang, angka infeksi melonjak pada atas 50 ribu kejadian per hari.

Hal ini dikhawatirkan menjelma sebuah hambatan baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya kenaikan angka kasus ini berakibat pada perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan menahan kehidupan perekonomian.

Dalam kuartal II-2021, Prompt Manufacturing Index-BI (PMI-BI) tercatat 51, 45%. Naik dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 50, 01% dan kuartal II tahun lalu yaitu 28, 55%.


Seperti PMI manufaktur versi IHS Markit, PMI-BI juga menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika telah di atas 50, oleh karena itu artinya industriawan sedang di dalam fase ekspansi.

Lalu, BI juga mengungkapkan bahwa buatan Survei Kegiatan Dunia Jalan (SKDU) mengindikasikan bahwa kegiatan dunia usaha terakselerasi. Peristiwa ini tercermin dari biji Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang meningkat sebesar 18, 98% pada kuartal II-2021 dibandingkan 4, 5% dalam kuartal sebelumnya.

Sejalan dengan perkembangan kesibukan usaha, kapasitas produksi terpakai adalah sebesar 75, 33% pada kuartal II-2021, menyusun dari capaian kuartal sebelumnya sebesar 73, 38%. Penggunaan tenaga kerja juga diindikasikan membaik meski masih di fase kontraksi, dengan iklim keuangan dunia usaha serta akses kredit yang pulih.

Akan namun, sepertinya kuartal III-2021 mau beda cerita. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas Masyarakat (PPKM) akan membuat ekonomi ‘pincang’, bahkan ‘mati suri’.

PPKM Darurat memercayakan pekerja di sektor non-esensial dan non-kritikal 100% berjalan dari rumah (work from home). Pusat perbelanjaan wajib tutup, dan restoran/warung dahar tidak boleh melayani pengunjung yang makan-minum di wadah.

Tidak hanya itu, kegiatan belajar membentuk juga harus dilakukan senggang jauh. Tempat wisata tutup sementara, sedangkan kegiatan seni-budaya-olahraga ditiadakan.

Belum lagi ada wacana negeri akan mengatur sistem kerja di pabrik menjadi sehari kerja-sehari libur. Artinya, buatan belum bisa dipacu cocok kapasitasnya.

Berbagai rambu-rambu ini bertujuan agung yakni mengurangi interaksi & kontak antar-manusia sehingga menurunkan risiko terpapar virus corona. Apalagi kasus positif corona di Indonesia bukannya terarah tetapi semakin menjadi-jadi.

Meski bertujuan indah, upaya pengendalian pandemi kudu dibayar mahal. Ekonomi Nusantara menjadi sangat terpukul sebab pembatasan aktivitas dan pergeseran rakyat.

“Bank Indonesia akan terus memperhatikan dampak penerapan PPKM Darurat yang kemungkinan berimbas terhadap kinerja kegiatan dunia jalan pada triwulan III 2021. Responden memprakirakan kegiatan jalan melambat pada triwulan III 2021 dibandingkan dengan capaian pada triwulan II 2021 meski masih positif dengan SBT sebesar 9, 77%. Kinerja sektor Industri Pengolahan berpotensi melambat pada triwulan III 2021 dengan ramalan angka PMI-BI sebesar 49, 89%, lebih rendah dari capaian pada triwulan sebelumnya, ” demikian sebut informasi BI.

“Asesmen awal kami menunjukkan jika PPKM Darurat ini kita lakukan selama satu bulan dan bisa menurunkan Covid-19 secara baik, pertumbuhan ekonomi kita akan turun sekitar 3, 8 persen, ” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam Rapat Kegiatan dengan Badan Anggaran DPR, belum lama ini.

Mengutip riset Bank Dunia, selama periode 2009-2019 Indonesia mampu menciptakan rata-rata 2, 4 juta lapangan kerja per tahun. Di dalam 10 tahun tersebut, sama pertumbuhan ekonomi Tanah Tirta adalah 5, 34% bohlam tahun. Hitungan bodoh-bodohan, setiap 1% pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan menciptakan 449. 438 lapangan kegiatan.

Titik tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah adalah 4, 8%, dan titik sedang perkiraan terbaru ada pada 4, 1%. Dengan perkiraan 1% pertumbuhan ekonomi membuka 449. 438 lapangan kegiatan maka awalnya akan ada 2, 16 juta lapangan kerja yang tercipta.

Namun karena ekonomi akan tumbuh lebih kecil, maka terciptanya lapangan kegiatan turun menjadi 1, 84 juta. Akan ada kira-kira 320 ribu orang yang gagal mendapat pekerjaan.

Berdasarkan Sensus Warga 2020, satu keluarga di Indonesia rata-rata beranggotakan 3, 9 orang. Jadi jika satu orang gagal memperoleh pekerjaan, hasil yang didapat akan dirasakan oleh 1, 25 juta orang.

Ramalan suram itu juga tidak hanya dikasih dari dalam negeri. Institusi pemeringkat S& P Global Ratings memutuskan untuk merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Nusantara 2021 menjadi 2, 3% – 3, 4%, padahal sebelumnya optimistis Indonesia mampu mencapai 4, 4% dalam tahun ini.

[Gambas:Video CNBC]
(hps/hps)