ritel-babak-belur-kok-djarum-mau-caplok-supraboga-lestari-1

Ritel Babak Belur, Kok Djarum Mau Caplok Supraboga Kekal?

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Global Digital Niaga atau yang lebih dikenal dengan nama Blibli sebuah platform e-commerce yang dibekingi oleh Group Djarum mengumumkan rencana pengambil alihan 51% saham PT Supraboga Lestari Tbk (RANC).

Pengumuman rencana masukan ini sempat membuat nilai saham RANC terbang 10% minggu lalu. Namun sejatinya apa alasan dibalik dasar akuisisi ini di zaman industry ritel sedang lesu-lesunya akibat Covid-19?

Secara fundamental, kinerja keuangan RANC mengalami penurunan pada semester I tahun itu. Pendapatan turun 6, 25% yoy menjadi Rp 1, 4 triliun dan laba bersih makin parah lagi anjloknya. Bottom line RANC tergerus 67% dan cuma membukukan laba bersih senilai Rp 17, 3 miliar pada semester I tarikh ini.


Rencana strategis akuisisi perusahaan pengelola Ranch Market ini tak lain dan tak bukan gunanya untuk membangun ekosistem Blibli sebagaimana disampaikan oleh CEO sekaligus Co-Founder Blibli Kusumo Martanto.

“Untuk itu, sebagai bentuk kontrak Blibli dalam mempercepat perluasan dan perluasan ekosistem usaha sebagai salah satu perusahaan e-commerce terkemuka di Indonesia, kami telah melakukan pengesahan Perjanjian Pengikatan Pembelian Saham (PPPS) dalam Supra Boga Lestari, ” kata Martanto kepada CNBC Indonesia, Kamis (16/9/2021).

Secara akuisisi emiten ritel ini maka ekosistem Blibli semakin lengkap mulai dari bank digital yang nantinya bisa didukung oleh blu by BCA dan layanan kunjungan oleh Tiket. com.

Lagi pula pola bisnis Blibli juga mempunyai value proposition tersendiri. Berbeda dengan Tokopedia, Shopee dan Bukalapak yang cenderung customer to customer (C2C), Blibli fokus pada model business to customer (B2C).

Dengan model ini Blibli ternama unggul dalam hal permintaan produk yang asli dan otentik. Selain itu berdasarkan survei yang dilakukan sebab ecommerceIQ dua tahun silam, Blibli terkenal lebih unggul dalam hal customer service dan experience selain produknya yang asli. Ini menjelma value proposition bagi e-commerce yang dibekingi oleh GDP ventures ini.

Jadi meskipun industri ritel sedang terpuruk tetapi ritel yang dimaksud adalah ritel yang konvensional alias yang masih bergantung pada toko fisik (brick and mortar) sementara transaksi e-commerce malah terus menanjak.

Dengan ekosistem yang semakin lengkap dan value proposition yang dibangun diharapkan mampu meningkatkan transaksi serta valuasi Blibli karena model usaha startup memang selayaknya serupa itu yaitu membesarkan ekosistem bertugas bisa memonetisasi dari di setiap peluang yang ada.

TIM RISET CNBC INDONESI A

[Gambas:Video CNBC]
(hps/hps)