SBN 10 Tahun Mulai Menguat Sambut Rilis CAD dan Neraca Kulak

SBN 10 Tahun Mulai Menguat Sambut Rilis CAD dan Neraca Kulak

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah tiba bangkit, di mana imbal buatan ( yield ) obligasi pemerintah bertenor 10 tarikh yang menjadi acuan pasar mulai melemah, mengindikasikan aksi beli investor.

Imbal hasil ( yield ) Surat Berharga Negara (SBN) seri IDFR0082 ini tercatat menyurut 0, 12% ke 6, 758% pada Selasa (18/8/2020), mengindikasikan kehormatan lagi menguat. Padahal pada simpulan pekan lalu, imbal hasil dengan sama tercatat menguat.

Imbal hasil surat utang berlawanan arah dari nilai, sehingga koreksi imbal hasil membuktikan bahwa harga sedang menguat.


Pelaku pasar masih memburu SBN jangka pendek, sehingga obligasi bertenor 5 tahun mencatatkan pelemahan yield sebesar 0, 44%, melanjutkan penurunan dengan dibukukan pada Jumat pekan cerai-berai sebesar 0, 55%. Sebaliknya, SBN bertenor ekstra-panjang masih dihindari sehingga harganya tertekan. Imbal hasil SBN tenor 20 tahun menguat 0, 08% ke 7, 399%.

Bank Nusantara (BI) melaporkan surplus neraca pembalasan (NPI) periode April-Juli 2020 senilai US$ 9, 2 miliar. Jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit US$ 8, 5 miliar. Transaksi berjalan ( current account ) masih kekurangan, tetapi menipis jadi US$ dua, 9 miliar atau 1, 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebaliknya neraca perdagangan membagikan kabar buruk dengan anjloknya impor hingga 32, 5% menandakan sektor manufaktur yang tak bergeliat. Hal ini mendatangkan aksi beli SBN bertenor panjang karena aset investasi pendapatan lestari ini dinilai masih menjanjikan makna, di tengah ketidakpastian.

Pekan cerai-berai, investor melepas obligasi jangka lama setelah pidato nota keuangan Pemimpin Joko Widodo yang mematok suku bunga SBN 10 tahun dalam kisaran 7, 29% d 2021, atau jauh lebih tinggi sejak posisi sekarang di level enam, 77%.

Dengan inflasi yang dipatok tersem-bunyi pada tingkat 3% pada tahun depan, atau sedikit lebih agung dari tahun ini yang per Juni baru sebesar 1, 54%, pemodal pun berekspektasi imbal buatan SBN bertenor panjang akan tetap meningkat dan harga di rekan sekunder tertekan.

Akibatnya, mereka memilih mengagut-agut surat utang jangka pendek, buat memarkir dananya dan menghindari efek fluktuasi harga dalam jangka menengah. Obligasi jangka pendek memungkinkan mereka mengambil strategi ‘simpan hingga jatuh tempo’ ( hold to maturity ).

Namun kini, tulisan utang jangka pendek maupun  panjang diburu, mengindikasikan bahwa investor situ pede dengan kondisi ekonomi ke depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)