skenario-luhut-sri-mulyani-jika-corona-ri-terus-mengganas-1

Skenario Luhut-Sri Mulyani Jika Corona RI Terus Mengganas

Jakarta, CNBC Indonesia – Lonjakan kasus Covid-19 di tanah air membuat pemerintah harus mengabulkan berbagai skenario penanganan. Pasalnya, pandemi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan klub melainkan juga perekonomian, serta jutaan orang harus menanggung beban yang berat pasal pembatasan aktivitas.

Skenario ini biasanya menjadi dasar untuk menentukan kecendekiaan serta mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan dihadapi dalam masa depan. Setidaknya tersebut dibeberkan Menteri Koordinator Bagian Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pekan itu.

Luhut mengaku telah menyiapkan skenario terburuk jika pandemi Covid-19 di Indonesia semakin ganas. Bahkan, jika urusan positif menyentuh 70 ribu kasus per hari.

“Kami sudah hitung worst case , lebih dari 40 ribu gimana suplai oksigen, obat, rumah sakit, semua sudah kami hitung, ” tegas Luhut, dikutip Minggu (11/7/2021).

Jadi antisipasi, pemerintah akan merancang Asrama Haji di Tempat tinggal Gede pasien Covid-19 yang tidak tertampung di beberapa rumah sakit besar seperti RS Wisma Atlet. Pondok Haji dalam kondisi patut dan sudah dicek tepat oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).


Luhut mengatakan kapasitasnya mampu untuk 800 pasien. “Menkes sudah siapkan ICU misalnya RS Asrama Haji pada Pondok gede, ” terangnya.

Selain tersebut, TNI Polri juga dioptimalkan dengan mendirikan RS Darurat, khususnya wilayah Jakarta serta Surabaya. Luhut juga membenarkan ketersediaan oksigen dalam situasi terburuk seperti tambahan kasus yang mencapai 70 seperseribu per hari. Begitu juga dengan ketersediaan obat-obatan & fasilitas kesehatan lainnya.

“Oksigen sampai keadaan ini sudah kami hitung sudah dibuat skenario oleh tim, sudah bisa sampai 50 ribu bahkan paling jelek kita sudah bikin sampai 60-70 ribu urusan per hari. Tapi kita nggak berharap itu berlaku, ” kata Luhut.

Pemerintah turut memperhatikan perkembangan Covid-19 di asing Jawa Bali. Luhut menyadari ada kenaikan kasus, namun sejauh ini masih pada kendali dan diharapkan tidak ada kekhawatiran berlebihan.

“Semua kekuatan kita kerahkan dan jangan tersedia yang underestimate bahwa MENODAI ini tidak bisa mengatasi masalah ini, sampai hari ini ya. Tapi jika kasus ini lebih belakang dari 40 ribu berantakan 50 ribu akan dibuat skenario siapa yang mau kita minta tolong, sudah mulai kita approach tersebut semua. ” jelasnya.

Keputusan pemerintah melegalkan PPKM Darurat tentu akan berimbas terhadap aktivitas perekonomian. Saat terjadi pembatasan, kesibukan ekonomi akan tersendat, bukan tidak mungkin ekonomi balik jatuh.

Tatkala itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, pengamalan PPKM Darurat akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021. Namun di kuartal II tidak akan terganggu karena berlaku lonjakan kasus pada simpulan Juni 2021.

Untuk kuartal II, Sri Mulyani optimis pertumbuhan ekonomi masih akan berada dalam atas level 7%. Namun kuartal III bisa berharta di kisaran 4%-4, 6% jika kasus Covid berlaku lama, dan jika mampu segera ditekan penyebarannya maka bisa bertahan di untuk 5%

“Jadi untuk kuartal III serta IV ini sangat bersandar pada pelaksanaan PPKM genting. Seberapa dalam mobilitas harus diturunkan untuk mencegah transmisi dan seberapa lama. Dan ini tergantung pada disiplin kita semua, ” ujarnya

Menurutnya, saat ini pemerintah telah mengatur dua skenario untuk keseluruhan pertumbuhan ekonomi di tahun 2021. Skenario moderat & juga skenario berat.

Sri Mulyani mengucapkan untuk skenario moderat negeri memproyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2021 bisa menyentuh 4, 5%. Dengan sarana lonjakan kasus Covid-19 mampu dikendalikan dan hanya terjadi hingga akhir Juli dan Agustus mulai normal balik untuk melanjutkan tren pemulihan sebelumnya.

Sedangkan, skenario berat adalah kemajuan ekonomi hanya bisa tercapai 3, 7%. Di mana dalam skenario ini lonjakan kasus terjadi hingga Agustus dan pemerintah harus pasti menurunkan mobilitas hingga 50%.

“Jadi tersebut seperti yang saya katakan tadi, seberapa dalam mobilitas yang harus diturunkan dan berapa lama, ” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)