Tembus Rp 14

Tembus Rp 14. 040/US$, BI Biarkan Rupiah Lanjut Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah terus melanjutkan penguatannya melawan dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini didorong oleh meningkatnya pasokan valas sebab investor asing yang melanjutkan pengumpulan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Pada Selasa (10/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14. 040/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0, 07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya rupiah menguat 0, 53% ke Rp 13. 975/US$.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan, masuknya kembali investor asing sejalan secara sentimen positif dari hasil Pemilu AS yang memenangkan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46.

Kebijakan-kebijakan Biden ke aliran diperkirakan akan lebih memberikan kepastian dan lebih bersahabat ke China, sehingga akan mengurangi tensi percekcokan dagang keduanya.

Foto: CNBC Indonesia [Bank Indonesia]

“Bila permusuhan hubungan dagang AS-China berkurang oleh karena itu akan mempercepat pemulihan ekonomi China, sehingga dampaknya akan dirasakan sebab negara Asia lainnya. China ialah salah satu tujuan ekspor Indonesia, maka bila ekonomi China segera pulih, akan lebih mendongkrak ekspor Indonesia, ” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/11/2020).

Sebagaimana diketahui, perang dagang AS-China sejak 2018 telah mengakibatkan ketidakpastian yang luar biasa sehingga langsung menimbulkan gejolak dan tekanan di dalam seluruh mata uang Emerging Market termasuk Rupiah.

Situasi tersebut dinilai dapat berbalik, makin bila melihat rencana the Fed yang diperkirakan akan terus menempuh quantitative easing (QE) akan mendirikan likuiditas dollar membanjiri pasar keuangan global dan merembes ke negeri berkembang.

Nanang selalu melihat, komitmen the Fed dengan akan terus melakukan pembelian obligasi pemerintah AS sebesar US$ 120 miliar per bulan, akan menyusun likuiditas dollar semakin melimpah dalam pasar.

Ditambah teristimewa, apabila stimulus fiskal AS sejumlah US$ 2, 2 triliun bergulir di masa pemerintahan Biden dengan akan membuat likuiditas semakin berlimpah. Kondisi likuiditas dollar yang melimpah karena ekspansi moneter dan fiskal AS dalam beberapa tahun ke depan dinilai akan menyebabkan DXY atau Index dollar terus mendarat.

“Bank Indonesia tahu ruang bagi Rupiah untuk langsung menguat masih lebar, karena Rupiah secara real masih undervalued atau masih terlalu murah dari perspektif neraca transaksi berjalan, selisih inflasi, serta selisih suku bunga Rupiah dan Valuta Asing, ” prawacana dia.



[Gambas:Video CNBC]
(dru)