ternyata-gara-gara-ini-saham-bukalapak-sempat-drop-dan-arb-1

Ternyata Gara-gara Ini Saham Bukalapak Sempat Drop dan ARB!

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten e-commerce PT Bukalapak Tbk (BUKA) membeberkan penyebab saham perusahaan sempat  anjlok  dan menyentuh level auto reject bawah (ARB)  dalam 3 hari berselang setelah perseroan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bukalapak pertama kali mencatatkan saham perdana di BEI pada Jumat (6/8/2021) dengan melepas sebanyak 25% saham ke publik dengan harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Rp 850 setiap saham.

Pada awal-awal debut, saham BUKA sempat menyentuh level auto reject atas (ARA) ke level Rp 1. 110 per saham dan direspons positif oleh pasar, namun setelahnya berbalik menyentuh level auto reject bawah (ARB) hingga menyentuh level terendah di level Rp 815 per saham.  


Batasan ARB  di BEI  yakni maksimal penurunan sebesar 7% dalam sehari, dan maksimal kenaikan 35%.

Presiden Bukalapak, Teddy Oetomo  mengungkapkan penyebab anjloknya saham Bukalapak dari sebelumnya ARA ke ARB ialah adanya penjualan saham oleh salah satu investor Bukalapak.

Investor tersebut hanya menjual tidak kurang dari 1% porsi kepemilikan saham Bukalapak. Namun, investor tersebut sebelumnya belum pernah berinvestasi di pasar modal tanah air.

“Sebenarnya ada satu [ shareholder ] yang menyebabkan dari ARA [auto reject atas] ke turun pertama. Sebenarnya yang dia jual kurang dari 1 persen daripada [saham] perusahaan, shareholder ini gak pernah atau baru pertama kali punya saham listed company di Indonesia, ” kata Teddy dalam pernyataannya yang diunggah di akun Instagram  @EllenMay, dikutip CNBC  Indonesia, Rabu ini (22/9).

Menurut Teddy, investor tersebut belum mengetahui karakteristik pasar di Indonesia, sehingga saat mengetahui kejatuhan harga saham Bukalapak, investor tersebut menyampaikan permohonan maaf.

“Dia kaget sebetulnya, to be honest they call us up , dia minta maaf gila-gilaan karena dia bilang mereka melakukan ini di India atau Amerika untuk treasury dan sebagainya, dia punya perusahaan banyak di mana-mana, ini gak terjadi seperti ini. Ternyata Indonesia itu likuiditasnya berbeda dengan negara-negara lain, ” beber Teddy.

Pada perdagangan Rabu ini (22/9), saham Bukalapak terpantau naik tipis sebesar 0, 59% ke level Rp 855 per saham. Dalam sebulan terakhir sejak melantai di bursa, saham BUKA masih terkoreksi 5. 52% dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 87, 60 triliun.

Pada penutupan perdagangan sesi II, saham BUKA stagnan di Rp 850/saham, sama dengan perdagangan Selasa kemarin.

Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek yang terbit di laman keterbukaan informasi BEI, hingga akhir Agustus 2021 tercatat bahwa Eddy Kusnadi Sariaatmadja, bos Grup Emtek, masih merupakan pemilik manfaat perseroan (ultimate beneficiary owner).

Kepemilikan sahan Eddy di Bukalapak bersifat tidak langsung melalui PT Kreatif Media Karya (KMK) yang merupakan pengendali Bukalapak dan pemegang saham mayoritas sebesar 23. 93%.

Pemegang saham pengendali dari KMK sendiri adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) yang dikendalikan secara langsung oleh Eddy. Berdasarkan Laporan Tahunan Emtek 2020, saham 99, 9% saham KMK dikuasai oleh Emtek.

Sama seperti Eddy, Jack Ma yang merupakan pendiri Alibaba juga merupakan pemilik tidak langsung saham Bukalapak.

API (Hong Kong)merupakan perusahaan investasi milik Ant Group yang terafiliasi dengan konglomerasi Alibaba tercatat memiliki 13, 448, 351, 573 atau setara dengan 13, 05% kepemilikan perusahaan.

Sedangkan penguasa lain adalah Archipelago Investment, perusahaan investasi asal Singapura yang merupakan anak usaha dari GIC satu diantara kendaraan investasi yang mengelola dana abadi negara Singapura.

Total kepemilikan saham Archipelago Investment mencapai 9, 45%, angka ini di luar pembelian sebanyak 1. 600. 797. 400 saham Bukalapak atau setara dengan 1, 553% oleh GIC tanggal 5 Agustus lalu

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)