Tersibak! 2 Alasan Penambahan Kasus Covid-19 Tinggi di RI

Tersibak! 2 Alasan Penambahan Kasus Covid-19 Tinggi di RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Data penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia sepertinya semakin mengkhawatirkan. Per Sabtu (11/7/2020), Nusantara tercatat memiliki 74. 018 kasus terjangkit, 3. 535 kasus janji, dan  34. 719 pasien jadi sembuh, menurut data pemerintah.  

Indonesia kini pula menduduki peringkat ke-27,   taat data Worldometers, dengan kasus nyata terbanyak secara global. Dengan total tersebut, Indonesia menduduki peringkat baru di wilayah ASEAN, mengalahkan Filipina dengan 52 ribu kasus, & Singapura dengan 45 ribu urusan positif.

Berdasarkan bahan yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia, setidaknya ada dua prospek yang membuat kasus corona dalam negeri melonjak tinggi akhir-akhir tersebut.


Pertama, pemerintah memang menggalakkan tes corona dengan lebih masif. Pada Rabu (8/7/2020), jumlah spesimen dengan diuji mencapai 22. 183. Mutlak tes yang sudah dilakukan adalah terhadap 968. 237 spesimen.

Indonesia menjadi negara ASEAN dengan jumlah tes corona terbanyak. Semakin banyak tes, maka kasus yang semula tidak terdeteksi menjadi lahir ke permukaan.

Itu adalah hal yang positif, pokok pasien positif corona kemudian mampu mendapatkan perawatan atau melakukan karantina agar penyebaran virus yang berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China ini tidak lebih berkembang.

“(Tambahan kasus positif) ini tidak serta-merta meningkatkan total pasien yang dirawat di sendi sakit, karena ini adalah kasus dengan gejala minimal sehingga tidak sakit dan tidak ada tanda dirawat di rumah sakit. Kita meminta mereka isolasi mandiri dan mematuhi secara ketat, agar tidak menjadi sumber penularan, ” sirih Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19.

Kedua , masyarakat Indonesia memang tidak disiplin dalam menjaga jarak dan memakai masker. Padahal selain rajin mengenakan masker dan mencuci tangan, mengelola jarak adalah salah satu kunci untuk mempersempit ruang gerak penyebaran virus corona.

“Jelas bahwa proses penularan di asing masih terjadi, ini menandakan masih ada pasien yang positif berharta di tengah masyarakat dan tak mampu menjaga orang lain biar tidak tertular. Masih banyak umum yang rentan tertular karena tidak patuh pada protokol kesehatan, ” papar Yurianto.

“Banyak yang menggunakan masker, tetapi dengan benar belum dilakukan. Hanya mengucup mulut, ini yang paling banyak. Tidak rajin cuci tangan serta tidak menjaga jarak juga menjelma masalah utama. ”

Untuk melihat kepatuhan masyarakat di menjaga jarak, indikator yang mampu dirujuk adalah Social Distancing Index yang disusun oleh Citi.

Semakin menjauhi nol bermakna masyarakat di suatu negara situ berjarak, taat social distancing. Sebaliknya jika semakin dekat dengan hampa maka masyarakat semakin dekat dan erat, sesuatu yang bisa memajukan risiko penyebaran virus corona.

Pada 3 Juli, nilai Social Distancing Index Indonesia tersedia di -20 sementara sepekan sebelumnya adalah -22. Angkanya semakin dekat dengan nol, artinya kebanyakan awak Indonesia semakin dekat dan baik, seakan corona tidak ada.

Jika kelompok kian tidak tertib menjaga jeda sehingga kasus corona melonjak, oleh sebab itu dikhawatirkan pemerintah akan kembali mengencangkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dalam kasus ekstrim, bisa selalu masyarakat kembali harus di vila saja, sehingga ekonomi yang senang pulih, kembali mati suri.

Hari ini, juru Cakap Pemerintah khusus Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan jika penambahan kasus itu akibat masyarakat yang tidak taat dalam menjaga aturan jarak sosial, dan tidak mengenakan masker dengan baik dan benar.

“Faktor yang paling menyumbang kejadian positif terbanyak adalah ketidakdisiplinan memakai masker, ” ujarnya dalam konvensi pers, Sabtu (11/7/2020). “Oleh sebab itu, kami mengingatkan untuk gunakan masker yang nyaman untuk kita pakai. ”

Nusantara sendiri kini menduduki posisi ke-26 dengan kasus positif terbanyak secara global. Selain itu, Indonesia serupa menduduki posisi pertama di provinsi ASEAN, mengalahkan Filipina yang saat ini memiliki lebih dari 54 ribu kasus, dan Singapura dengan bertambah dari 45 ribu kasus meyakinkan.

Saksikan video terkait di kolong ini:

(hps/hps)